Harga Beras Premium Meroket, Hari Ini Dibanderol Rp 15.870 per Kg

Beras premium kini tengah menjadi sorotan karena belakangan ini harganya sedang naik drastis. Mengutip data panel harga Badan Pangan Nasional pada Sabtu (10/2/2024), harga rata rata beras premium secara nasional naik 2,19 persen atau sebesar Rp 340. Hari ini, per kilogramnya dibanderol sebesar Rp 15.870. Ada juga beras medium yang harganya juga naik, tetapi tidak sesignifikan beras premium. Hari ini, harganya Rp 13.810 per kg setelah naik 1,54 persen atau sebesar Rp 210.

Mahalnya beras premium ini berkaitan dengan stoknya yang mulai mengalami kelangkaan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Roy Mandey mengungkap, saat ini beras premium mulai langka di toko swalayan. Pengusaha ritel mulai kesulitan mendapatkan beras tipe premium lokal dengan kemasan 5 kg karena adanya keterbatasan suplai.

Harga Beras Premium Meroket, Hari Ini Dibanderol Rp 15.870 per Kg Harga Beras di Malang Makin Meroket, Kini Beras Premium di Pasar Kepanjen Rp 82 Ribu Per 5 Kg Harga Beras Naik Lagi: Premium Rp 16.480 per Kg dan Medium Rp 14.340 per Kg

Soal Ulangan Bahasa Sunda Kelas 3 SD Semester 2 Beserta dengan Kunci Jawaban, Soal Pilihan Ganda Sripoku.com Terus Meroket, Harga Beras di Mesuji Tembus Rp 16.500 Per Kg Harga Beras Premium di Pasar Mempawah Tembus Harga Rp 17.500 Per Kg

Harga Beras Kualitas Premium di Tanggamus Capai Rp 16.500 per Kg Harga Beras Medium di Jember Turun Rp 200, Beras Premium Tetap Rp 15.800 per Kg "Situasi dan kondisi yang tidak seimbang antara supply dan demand inilah yang mengakibatkan kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras di pasar ritel modern (toko swalayan)," kata Roy.

Roy mengatakan, keadaan kenaikan harga beras ini terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Akibatnya, bahan pokok lain juga ikut mengalami kenaikan harga. Sebagai informasi, Indonesia saat ini memang sedang kekurangan beras. Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengatakan, RI sedang kekurangan beras sebanyak 2,8 juta ton.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, Arief mengatakan pemerintah melakukan impor beras. "Jadi memang saat ini meskipun produksi dan konsumsi beras di Januari dan Februari 2024 minus 2,8 juta ton sebagai dampak dari penurunan produksi akibat El Nino, namun kita memerlukan beras yang cukup agar neracanya dapat terjaga secara positif. Karena itu, pemerintah menyeimbangkan kekurangan tersebut dengan kebijakan importasi," kata Arief dalam keterangannya, Jumat (9/2/2024). Menurut dia, kebijakan tersebut adalah pilihan terakhir agar ketersediaan beras tetap terjaga.

“Walaupun sangat pahit, importasi saat ini harus dijalankan. Mungkin kebijakan ini tidak populer saya sampaikan, tetapi harus dikerjakan untuk pemenuhan kebutuhan saat ini,” ujar Arief.

Tinggalkan Balasan