Trauma Bisa Sebabkan Tantrum yang Berlebihan pada Anak, Ketahui Tandanya

Tantrum pada anak umum terjadi. Injmerupakan suatu ledakan perilaku yang mencerminkan respon disregulasi terhadap rasa frustasi yang dialami anak. Tantrum merupakan suatu perkembangan normal sesuai dengan usia anak. Namun, bisa menjadi abnormal jika tantrum berlanjut sampai anak yang lebih besar hingga remaja.

Pada anak yang mengalami trauma, berisiko mengalami peningkatan tingkat tantrum hingga menjadi abnormal. Anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) I Gusti Ayu Trisna Windiani ungkap tantrum berlebihan, terus menerus, dan sulit dikendalikan menjadi tanda adanya masalah yang lebih dalam. Penyebab dan Cara Atasi Tantrum Pada Anak

Orangtua Harus Tahu, Berikut Kebiasaan yang Bisa Sebabkan Gigi Anak Tonggos Anak Tantrum Jangan Dibentak! Begini Tips Atasi Anak Ngamuk dari Dokter Anak Tantrum, Orang Tua Jangan Lakukan Dua Hal Ini

Alasan yang Jarang Diketahui Mengapa Stres Bisa Sebabkan Sembelit Cara Mudah dan Ampuh Atasi Gusi Bengkak yang Mengakibtkan Nyeri Berlebihan Pada Mulut 'Saya Bisa Mati oleh Dia!' Isak Tangis Ibu di Palembang, Sumsel Dipukuli Anak, Kepala Memar: Trauma!

Cuaca Panas Sebabkan Dehidrasi, Orangtua Harus Pastikan Anak Minum Cukup Maka orangtua atau pengasuh perlu mempertimbangkan indikasi ini mengarah pada tantrum abnormal karena adanya Post traumatic stress disorder (PTSD) "Salah satu kita pikirkan tantrum patologis adalah PTSD. Stres, yang tiba tiba dia kehilangan orang dia cintai misalnya. Atau tiba tiba rumah terbakar, kehilangan barang, tiba tiba sekolah dan sebagainya," ungkapnya pada media briefing virtual, Rabu (24/4/2024).

Stres bisa juga datang usia anak mengalami suatu kejadian kecelakaan. Peristiwa traumatis yang berujung pada PTSD bisa memiliki dampak yang berbeda. Ada secara internalisasi, yaitu merasa sedih dan murung terus menerus, ada juga yang secara eksternalisasi

"Eksternalisasi, ketika mengalami kekerasan, dia akan menjadi pelaku kekerasan. Merusak barang, menghantam, menghancurkan semua, sehingga sama dengan saya," jelas dr Ayu. Keduanya sangat berhubungan, maka perlu berhati hati ketika anak kehilangan orangtua, mengalami bencana. "Perlu lakukan skrining. Ada dampak gangguan psikologi dan sebagainya. Itu tugas besar untuk kita semua," tutupnya.

Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Tinggalkan Balasan